Polres Trenggalek dalam Lintasan Sejarah

Polres Trenggalek – Cukup sulit menggali sejarah Polres Trenggalek di masa lampau. Tidak ditemukan catatan dan dokumen tertulis yang bisa menggambarkan perjalanan Polres Trenggalek dari masa penjajahan Belanda hingga saat ini. Beberapa narasumber yang coba kami gali tidak cukup memberikan informasi yang valid dan faktual selain perpindahan Mapolres dari kantor yang lama di Jalan P. Sudirman (sekarang kantor KPPM Trenggalek) ke tempat yang baru di Jalan Brigjen Soetran 06 Trenggalek.

Pun demikian Tim kecil Polres Trenggalek terus berupaya menggali jejak dimasa lampau khususnya tentang keberadaan Kapolres Pertama AKP R. Roestamadji anak dan keturunannya masih mendiami bumi Minak Sopal Trenggalek.

Dari penelurusan Tim kecil ini, diperoleh fakta-fakta yang cukup menarik dan hampir tidak diketahui oleh masyarakat maupun anggota jajaran Polres Trenggalek sendiri. rangkaian sejarah kami sajikan seperti dibawah ini.

Menggali penggalan sejarah bukanlah perkara mudah. Apalagi pada rentang waktu yang cukup lama. Referensi, literatur, catatan, dan dokumen serta bukti-bukti pendukung mutlak dibutuhkan untuk memperkuat nilai-nilai sejarah yang ditemukan. Demikian pula untuk mencari saksi hidup kerkenaan dengan sejarah yang akan diangkat itu tentu tidaklah mudah. Saksi hidup haruslah yang mendengar atau mengetahui secara langsung sehingga informasi yang didapat benar-benar valid dan otentik.

Berangkat dari rasa ingin tahu, dibentuklah tim kecil untuk mencoba mengungkap sosok R. Roestamadji yang sesungguhnya. Bagaimana ia memimpin, bagaimana ia berjuang dan bagaimana ia membesarkan Polres Trenggalek tercinta ini.

Tim kecil yang dipimpin AKP Katimun, SH (Kasatintelkam) dan AKP Suyono, SH, M.Hum (Kasatbinmas) ini bergerak cepat mencari sumber-sumber sejarah baik dokumen, buku maupun saksi hidup.

Dari berbagai referensi yang berhasil ditemukan, salah satunya adalah buku karya Abdul Hamid Wilis, seorang tokoh NU, sejarawan dan penulis berjudul `Aku Jadi Komandan Banser (Barisan Ansor Serbaguna)” terbit tahun 2011. Dari buku tersebut diperoleh beberapa catatan tentang sosok R. Roestamadji ketika menjabat sebagai Komandan Distrik Kepolisian Trenggalek medio 1947-1948.

Buku lainnya adalah Sejarah Kabupaten Trenggalek Jwalita Praja Karana yang ditulis oleh Tim sejarah kabupaten Trenggalek dan tim Konsultan IKIP Malang yang di terbitkan tahun 1982 yang sedikit banyak menceritakan tentang peran Kepolisian di bawah kepemimpinan R. Roestamadji.

Tak berhenti disitu, tim kecil ini terus bergerak mencari data-data pendukung lainnya terkait dengan sosok Kapolres Trenggalek pertama ini. Tim pun berusaha menemui keluarga R. Roestamadji di Kelurahan Ngantru, Trenggalek.

“Kami harus mencari sumber yang paling dekat, entah itu anak, saudara, ataupun tetangga, untuk mencari tahu bagaimana kehidupan dan karakter seorang R. Roestamadji,” ungkap Katimun.

Alhasil, tim berhasil menemui bapak Limpung, anak ke-4 dari R. Roestamadji yang masih menempati rumah peninggalan ayahandanya ini. Pak Limpung yang memiliki nama asli R. Arjuna inipun menceritakan bahwa ayahnya R. Roestamadji adalah orang yang tertutup. Tidak pernah sekalipun berkeluh kesah tentang sesuatu hal apalagi terkait dengan pekerjaannya sebagai Kapolres pada masa itu.

“Sosok yang disiplin, teliti dan tegas. Tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk keluarga. Bahkan kancing baju pun dikembalikan ke negara,” ujarnya.

Limpung menambahkan, meskipun memiliki mobil dinas tetapi tidak pernah menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan pribadi. Perlakuan kepada tujuh anak-anaknya pun tidak dibeda-bedakan, sama seperti yang lainnya, meskipun ia adalah seorang Kapolres yang memiliki peran penting dalam pemerintahan. Limpung juga sempat menunjukkan beberapa dokumen dan catatan tulisan tangan R. Roestamadji.

Hal yang cukup menarik dimana seorang R. Roestamadji menyempatkan diri menulis tentang budaya dan legenda Kabupaten Trenggalek. Tentang Menak Sopal, budaya nyadran, sembonyo, tiban, sampai sejarah Trenggalek di masa lampau. Meskipun berupa tulisan tangan, namun dari sisi penceritaan dan gaya penulisan sangat menarik dan mudah dipahami.

Adapun hasil dari penelusuran tim kecil ini dapat dirangkai secara singkat sebagai berikut :

Roestamadji lahir di Trenggalek tanggal 11 Nopember 1903, memiliki istri bernama Sutjiati, seorang gadis asal Tulungagung. Dari perkawinan itulah mereka dikaruniai tujuh orang anak. Dua laki-laki dan lima perempuan. Tidak ada satupun dari mereka yang meneruskan profesi ayahandanya. Sebelum menjabat sebagai Kapolres Trenggalek pada tahun 1956-1960, R. Roestamadji muda pernah berdinas di wilayah Blitar dan Madiun.

Tahun 1947, nama PKI (Partai Komunis Indonesia) mulai muncul dengan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia)  sebagai organisasi sayapnya. Gerakan PKI dan Pesindo waktu itu sangat agresif dan melakukan berbagai cara untuk menancapkan idealismenya di bumi Menak Sopal. Pembunuhan, perampokan, teror kerap terjadi dimana-mana.

Sebagai petugas Kepolisian, Letnan Polisi R. Roestamadji, Komandan Distrik Kepolisian di Trenggalek menangkap pelaku perampokan yang terjadi di wilayah Trenggalek, Karangan dan Kampak yang ternyata adalah orang-orang Pesindo dari Ponorogo. Akibatnya, tangsi Polisi (Kantor Distrik Kepolisian) pada waktu itu dikepung oleh sedikitnya 150 orang anggota Pesindo, menuntut kawan mereka dibebaskan. R. Roestamadji dengan tegas menolak tuntutan mereka.  Pada saat yang sama KDM (Komando Distrik Militer)  Trenggalek (Batalyon 102) dan pasukan Hizbullah  mengetahui dan mendengar pengepungan tersebut, akhirnya segera turun untuk membantu dengan mengepung Pesindo dari luar tangsi polisi. Anggota Pesindo pun mundur dan meninggalkan tangsi Polisi kembali ke Ponorogo. Sikap tegas R. Roestamadji inipun mendapatkan apresiasi dari berbagai tokoh pergerakan pada masa itu.

Pada masa Agresi Militer Belanda II ke Indonesia tahun 1948, pasukan Belanda masuk ke Trenggalek dan memaksa R. Roestamadji mengungsikan keluarganya ke desa Sengon Kecamatan Bendungan, sedangan R. Roestamadji sendiri mengungsi ke Glagah Ombo Kecamatan Tugu. Hal tersebut dilakukan demi keamanan keluarganya, mengingat sasaran Belanda adalah TNI dan Polisi. Sebuah bukti nyata bagaimana seorang R. Roestamadji sangat mencintai dan menyayangi keluarganya.

Seiring dengan berjalannya waktu, R. Roestamadji menerima penghargaan dan kenaikan pangkat sebagai Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan diberikan mandat sebagai Kapolres I di Trenggalek. Berbagai ide kreatif dan inovatif ia wujudkan untuk meningkatkan kualitas kerja Kepolisian Trenggalek, diantaranya membentuk grup band Kepolisian dengan nama POB (belum diketahui arti dan singkatannya) dan membangun sekolah taman kanak (STK) Bhayangkari tahun 1958  yang masih ada hingga kini.

Roestamadji mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolres Trenggalek tahun 1960, pensiun tahun 1978 dan meninggal dunia pada tanggal 11 Agustus 1990 dengan meninggalkan sejuta prestasi dan beribu kenangan yang akan terus tercatat dalam sejarah Polres Trenggalek. Beliau dikebumikan di Setono Gedong Trenggalek yang merupakan komplek pemakaman para pejabat di Trenggalek.

Sepenggal cerita sejarah ini memang belum bisa menggambarkan sosok seorang R. Roestamadji secara utuh. Namun dibalik itu semua, setidaknya langkah tersebut merupakan awal dari semangat `nguri-nguri` sejarah Polres Trenggalek.

Sebagai wujud penghargaan dan penghormatan terhadap jasa-jasa R.Roestamadji, nama R. Roestamadji diabadikan sebagai nama ruang pertemuan utama Polres Trenggalek.