Bhabinkamtibmas Joho Himbau Masyarakat Agar Tidak Takut Teroris

Polres Trenggalek – ” Agar masyarakat tenang dalam menyikapi adanya kejadian teroris yang muncul di jakarta beberapa hari kemarin, itu menunjukan masih adanya sinyalemen jaringan teroris yang ada di negeri ini. Dengan peran serta kita semua mari kita berupaya mencegah aksi radikal sampai di wilayah, ” kata Bhabinkamtibmas Polsek Pule Polres Trenggalek Bripka Arif Tri saat bertemu dengan para tokoh masyarakat di desa binaanya dalam kegiatan megengan dan pengajian akbar haflah akhirusanah Madin Alhidayah, dusun ngrandu, ( Rt/34 ), ( Rw/10 ), desa Joho, pada Jum’at malam ( 11/05 ).

Terorisme, ketika kita mendengar kata terorisme, pasti muncul dibenak kita mengenai aksi kekerasan, bom, organisasi radikal, dan yang tidak lepas dari islam. Ini merupakan pemikiran orang-orang awam yang tidak tahu apa yang dimaksud sebenarnya dengan aksi teroris tersebut.

“Terorisme berarti suatu kegiatan yang menimbulkan tekanan dan ketakutan. Secara etimologi terorisme berarti menakut-nakuti (to terrify).Kata ini berasal dari bahasa latin terrere, “menimbulkan rasa gemetar dan cemas”.Kata ini secara umum digunakan dalam pengertianpolitik, sebagai suatu serangan terhadap tatanan sipil, ” lebih lanjut Bhabinkamtibmas Polsek Pule polres Trenggalek membicarakan tentang teroris.

Dalam undang -undang Pidana Terorisme mendefinisikan terorisme sebagai segala aksi yang sesuai dengan tindak kriminal yang tertera dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2002 mengenai Aksi Terorisme Kriminal. Terorisme adalah perbuatan melawan hukum secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara, dengan membahayakan bagi badan, nyawa, moral, harta benda dan kemerdekaan orang atau menimbulkan kerusakan umum atau suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, sehingga terjadi kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, kebutuhan pokok rakyat, lingkungan hidup, moral, peradaban, rahasia negara, kebudayaan, pendidikan, perekonomian, teknologi, perindustrian, fasilitas umum atau fasilitas internasional (UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Bab I, pasal 1).

Menurut penyampaian Bhabinkamtibmas Polsek Pule Polres Trenggalek mengumpulkan dari berbagai sumber, Dalam sejarahnya terorisme telah muncul sejak berabad-abad yang lalu,yaitu diperkirakan sejak abad ke-19, hal ini menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982). Sejarah mencatat, pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melakukan perlawanan terhadap pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Bentuk pertama terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II. Yaitu dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah.

Bentuk kedua terorisme dimulai di Aljazair pada tahun 50-an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Tindakan itu dilakukan untuk melawan terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan.

Sementara di Indonesia, aksi terorisme sudah mulai muncul sejak tahun 1981 yang berawal dari aksi pembajakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 206 dengan tujuan kota medan. Aksi pembajakan tersebut dilakukan oleh orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata senapan mesin dan granat, dan mengaku sebagai anggota Komando Jihad. Dalam aksi tersebut satu kru pesawat tewas 1 tentara komando tewas dan tiga orang dari anggota teroris tersebut tewas.