Bripka Arif : Bentuk Teroris Tidak di Dunia Nyata Saja Melalui Medsos Harus di Waspadai

Polres Trenggalek – Mencermati kejadian yang muncul saat ini yang mengganggu situasi Kamtibmas masyarakat dengan aksi  teror seperti kejadian baru -baru di Polres tabes Surabaya merupakan wujud nyata pelaku teror yang bisa langsung bisa dilihat oleh mata, akan tetapi lebih berbahaya lagi adanya teror yang melalui dunia maya dengan tujuan menciptakan rasa takut dan cemas masyarakat dengan mengunggah kejadian aksinya yang bisa di lihat melalui media sosial. Seperti yang disampaikan Bhabinkamtibmas Polsek Pule Polres Trenggalek desa Joho saat melaksanakan talk show di radio Saga FM pada senin pagi ( 14/05 ).

 

“Dunia maya sering di salahgunakan oleh berbagai pihak untuk melakukan kejahatan alah satunya terorisme, dunia maya atau internet telah menjadi kendaraan utama pelaku terorisme untuk mempersiapkan aksi serta merekrut pengikut, ” kata Bhabinkamtibmas Polsek Pule Polres Trenggalek Bripka Arif dalam Talk shownya.

 

Dunia maya mudah diakses, tidak ada kontrol, regulasi, dan aturan. Audiens luas bahkan bisa anonim, langsung komunikasi, murah, multimedia, kemudian kalau kita lihat internet sudah jadi sumber pemberitaan dan kebutuhan kita, lanjut penuturan yang dilaksanakan Bhabinkamtibmas Polsek Pule Polres Trenggalek Bripka Arif.

 

Fasilitas dan kemudahan itulah yang melatarbelakangi radikalisme merambah dunia maya, memanfaatkan jejaring sosial dan media, dengan sasaran kaum muda dan penggiat dunia maya. Selain itu, kemajuan teknologi informasi juga mengubah pola propaganda kelompok radikal dari cara-cara konvensial ke cara-cara yang mereka gunakan sekarang, yaitu memanfaatkan media dan dunia maya.

 

Dulu terorisme melakukan rekrutmen melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan. Mereka harus tatap muka untuk melakukan indoktrinasi, rekrutmen, pembaiatan. Sekarang beda, terorisme sudah menggunakan website, medsos, social messenger dan komunikasi dengan layanan internet.

 

Salah satu bukti , pola itu adalah pelaku yang siap melakukan aksi bom bunuh diri di seperti kejadian di gereja santa maria, jalan ngagel, jalan arjono dan diponegara surabaya kemarin. Pelaku itu, merupakan satu keluarga, yang melibatkan anak -anak dan orang tuanya dalam aksi bom bunuh diri kemarin.

 

 

Kalau awalnya kelompok radikal menggunakan website untuk propaganda maka begitu muncul media chatting, mereka ikut beralih, bahkan sampai ke game online. Belum lagi setelah media sosial muncul, dan terakhir social messenger, Intinya, kelompok teroris menggunakan internet untuk melakukan perang psikologis, propaganda, pengumpulan dana dan data, serta berdiskusi antarmereka.