Polsek Pule Galang Tokoh Agama Cegah Paham Radikal

Polres Trenggalek – Masjid al Amin, desa Pule lokasi kegiatan patroli dan sosialisasi personel polsek Pule Polres Trenggalek dalam pencegahan pelaku teror, itu pada Rabu ( 16/05 ). Kegiatan yang dilakukan Aiptu Joko Nurhadi dan personel lainya dilaksanakan selesai sholat dhuhur yang dikerjakan, dengan memberikan arahan tentang berbahayanya paham radikalisme.

 

Jaringan teroris di Indonesia lebih memilih proses rekrutmen secara langsung atau tatap muka (offline) daripada melalui media sosial (online). Media sosial hanya dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikalisme, menurut penyampaian KSPK Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Joko di tengah -tengah jamaah masjid al Amin.

 

 

Alasan penjaringan dan perekrutan secara langsung karena media sosial sering dijadikan media untuk melakukan penipuan.
Pola perekrutan jaringan teroris di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara. Di Eropa dan Malaysia lebih menggunakan jalur online.

 

 

Menurut informasi yang ada, di negara lain rekrutmen lewat media sosial. Di Eropa misalnya, orang yang tidak pernah ikut pengajian tiba-tiba hilang dan muncul di Syria. Di Indonesia, radikalisasi betul lewat sosial media. Tapi untuk proses rekrutmen mayoritas lebih banyak terjadi secara offline, tatap muka. Jadi tidak lewat dunia maya terutama dalam proses rekrutmennya.

 

 

“Alasan kelompok ekstremis di Indonesia tak terlalu percaya dengan pola perekrutan online. Salah satunya karena identitas pemilik akun di dunia maya banyak tak jelas. Ada yang fotonya perempuan tapi ternyata laki-laki dan sebaliknya. Selain itu kasus-kasus penipuan juga banyak terjadi di jaringan-jaringan Telegram yang berafiliasi dengan ISIS,” lebih lanjut KSPK Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Joko mengatakan.

 

 

Lanjut penuturan KSPK Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Joko, beberapa tahun lalu media asing meliput masjid-masjid yang dijadikan tempat propaganda pengajian kelompok ISIS. Namun itu tak bisa dihentikan karena adanya UU yang melindungi kebebasan berekspresi. Di UU Terorisme saat ini juga tak ada pasal untuk menjerat pihak-pihak yang mengajarkan terorisme.