Silaturahmi Tokoh Masyarakat Bidang Budaya Tayub di Wilayah Pule

Polres Trenggalek – ” Untuk saat ini apa ada pertunjukan tayub yang akan di gelar di wilayah Pule, terutama dalam bulan -bulan kedepan menurut informasi dari anda, ” tanya Kanit Patroli Polsek Pule Polres Trenggalek Aiptu Sopyan didampingi Aiptu Marjani ke salah satu tokoh budaya lokal tari tayub, desa Pakel, saudara Parno pada Sabtu ( 16/06 ).

 

 

” Sebentar lagi yang banyak mungkin diwilayah kecamatan tetangga pak, dalam hal adanya hajatan pernikahan, ” saut Parno, pemerhati budaya tayub di wilayah Pule. Dalam kegiatan pementasan Tayub biasanya mengundang masa yang banyak sehingga memerlukan kehadiran Polisi dalam membantu pengamananya, dan juga dalam menjaga kelancaran dalam kegiatan selama pementasan Tayub.

 

Dari informasi yang didapat, Tayub merupakan Suatu jenis tari pergaulan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di daerah pedesaan yang jauh dari keraton. Tayuban dapat diselenggarakan pada siang maupun malam hari. Acara ini biasanya diadakan untuk memeriahkan suatu hajat, baik hajat perseorangan maupun hajat kampung.

 

Rombongan seni tayub umumnya terdiri atas sekitar enam penabuh gamelan dan sedikitnya empat penari wanita yang disebut ledek tayub. Penari berpakaian tari mirip penari gambyong. Ia mengenakan kain batik, berselendang, memakai kemben (penutup dada dari kain yang dililitkan), tanpa kebaya. Pada bahunya tersampir sehelai sampur, selendang yang akan diberikan kepada pria lawan tarinya. Pemimpin rombongan seni tayub biasanya juga pemilik gamelan dan pelatih tari.

 

Pada acara tayuban, muianya para penari wanita itu menari gambyong. Sesudah tarian selesai, primadona penari akan mengalungkan sampurnya pada tuan ru- mah atau tamu kehormatan sebagai tanda ajakan ikut menari. Kemudian, barulah penari yang lain ikut mengalungkan sampur mereka pada tamu-tamu terhormat lainnya.