Waspada Jaringan Teroris Masih Ada , Perlunya Cegah Dengan Peran Bersama

Polres Trenggalek – Masjid al Amin, dusun krajan, desa Pule lokasi kegiatan safari Jum’at yang dilaksanakan Waka Polsek Pule Polres Trenggalek Ipda Sanusi, S. H., bersama anggota pada Jum’at ( 07/09 ). Dalam mendekatkan komunikasi dengan masyarakat, cara ini dinilai juga efektif dalam menyampaikan himbauhan kepada masyarakat langsung melalui dialogis yang dilaksanakan setelah kegiatan sholat Jum’at yang dilaksanakan.

 

Adanya kejadian penembakan yang menggugurkan salah satu anggota Polri yang dilakukan oleh jaringan teroris menandakan masih adanya kelompok tersebut di dalam masyarakat indonesia, perlunya peran serta masyarakat terhadap munculnya kelompok teroris salah satunya dengan mengetahaui perkembangan dilingkunganya. ” Kita harus bisa mengamati bila adanya warga yang baru dan berdomisili, upayakan agar di ketahui asal dan tujuanya, ” kata Waka Polsek Pule Polres Trenggalek Ipda Sanusi, S. H.

 

Dikatakanya, Jaringan teroris di Indonesia lebih memilih proses rekrutmen secara langsung atau tatap muka (offline) daripada melalui media sosial (online). Media sosial hanya dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikalisme, menurut penyampaian Waka Polsek Pule Polres Trenggalek di tengah -tengah jamaah masjid al Amin.

Alasan penjaringan dan perekrutan secara langsung karena media sosial sering dijadikan media untuk melakukan penipuan.Pola perekrutan jaringan teroris di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara. Di Eropa dan Malaysia lebih menggunakan jalur online.

Menurut informasi yang ada, di negara lain rekrutmen lewat media sosial. Di Eropa misalnya, orang yang tidak pernah ikut pengajian tiba-tiba hilang dan muncul di Syria. Di Indonesia, radikalisasi betul lewat sosial media. Tapi untuk proses rekrutmen mayoritas lebih banyak terjadi secara offline, tatap muka. Jadi tidak lewat dunia maya terutama dalam proses rekrutmennya.

“Alasan kelompok ekstremis di Indonesia tak terlalu percaya dengan pola perekrutan online. Salah satunya karena identitas pemilik akun di dunia maya banyak tak jelas. Ada yang fotonya perempuan tapi ternyata laki-laki dan sebaliknya. Selain itu kasus-kasus penipuan juga banyak terjadi di jaringan-jaringan Telegram yang berafiliasi dengan ISIS,” lebih lanjut Waka Polsek Polsek Pule Polres Trenggalek mengatakan.

Lanjut penuturan Waka Polsek Pule Polres Trenggalek Ipda Sanusi, beberapa tahun lalu media asing meliput masjid-masjid yang dijadikan tempat propaganda pengajian kelompok ISIS. Namun itu tak bisa dihentikan karena adanya UU yang melindungi kebebasan berekspresi. Di UU Terorisme saat ini juga tak ada pasal untuk menjerat pihak-pihak yang mengajarkan terorisme.