Timsus Polres Trenggalek Amankan Ribuan Baby Lobster

Polres Trenggalek – Kepolisian Resort Trenggalek kembali berhasil membongkar kasus perikanan komoditas baby lobster. Tak tanggung-tanggung, petugas berhasil mengamankan sedikitnya ribuan baby lobster yang diduga tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring, S.H., S.I.K., M.Si. dalam konferensi pers yang digelar di Mapolsek Watulimo membenarkan hal tersebut. Kamis (20/8).

“Iya benar, pada hari Kamis  tanggal 20 Agustus 2020, sekitar jam 14.00 Wib Timsus bersama Polsek Watulimo telah mengamankan satu orang berinisial EY asal Watulimo Trenggalek berikut barang bukti berupa 2.300 ekor benih lobster jenis pasir dan 67 ekor baby lobster jenis mutiara.” Ungkap AKBP Doni.

AKBP Doni menegaskan, berawal dari informasi masyarakat bahwa terdapat kegiatan perikanan komoditas benih bening lobster di wilayah Watulimo. Petugas kemudian melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut.

Kerja keras petugas Kepolisian dilapangan berbuah manis saat berhasil mengamankan EY dirumah neneknya tepatnya di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Saat dilakukan pengecekan, petugas menemukan 11 kantong plastik berisi ribuan ekon baby lobster tersebut. Karena tidak bisa menunjukkan surat ijin usaha perikanan, petugas kemudian membawa EY berikut barang bukti ke Mapolsek Watulimo untuk proses lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, EY diduga telah melakukan transaksi kurang lebih 20 kali dan mengambil dari nelayan seharga Rp. 8.500, dijual lagi seharga harga RP. 9.000,-. EY memiliki sekitar 15 nelayan untuk mencari benih lobster tersebut.

Selain disuga sudah berulang kali menjual benih baby lobster tanpa dilengkapi documen yang diatur oleh undang-undang, EY juga diduga dapat merugikan negara karena tidak membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku akibat perdangan benih baby lobster secara illegal selama ini.

AKBP Doni menambahkan bahwa untuk nelayan penangkap Benih Bening Lobster (BBL) harus ada penetapan yang di keluarkan dari Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Setelah mendapat penetapan jika menangkap BBL maka harus mengajukan SKAB (Surat Keterangan Asal Benih) yang di terbitkan oleh Dinas Perikanan Kabupaten setempat.