Polisi Hadirkan Orang Tua Sebelum Pulangkan Sejumlah Kelompok Remaja

Polres Trenggalek – Kepolisian Resort  Trenggalek  memulangkan sejumlah pemuda tanggung yang merupakan simpatisan dari salah satu perguruan pencak silat. Rabu, (9/9).

Belasan pemuda yang rata-rata masih berusia remaja dan berasal dari Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek ini diamankan petugas saat digelar penyekatan dalam rangka pengamanan sidang kasus penganiayaan yang melibatkan perguruan pencak silat di Kabupaten Trenggalek untuk kemudian dibawa ke Polres Trenggalek.

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring, S.H., S.I.K., M.Si. yang turut hadir dan memberi pengarahan kepada para simpatisan tersebut menegaskan, sebelum dipulangkan, masing-masing diminta untuk membuat dan menandatangai surat pernyataan dan orang tua masing-masing dipanggil untuk hadir di Mapolres.

“Iya benar, kita hadirkan orang tua masing-masing agar mengetahui sekaligus memberi pengarahan dan pembinaan.” Jelas AKBP Doni.

Masih kata AKBP Doni, selain itu pihak Polres Trenggalek juga mengambil tindakan penilangan terhadap kenderaan bermotor roda dua yang tidak dilengkapi surat-surat kendaraan bermotor sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Lebih lanjut perwira menengah alumni Akpol tahun 2000 ini menuturkan, langkah ini merupakan upaya persuasif Kepolisian dalam menjaga Kamtibmas yang kondusif di Kabupaten Trenggalek dan mencegah gesekan yang lebih besar.

AKBP Doni meminta agar warga perguruan pencak silat tidak mudah terpancing atau terprovokasi informasi yang beredar di media sosial maupun aplikasi perpesanan lainnya yang belum tentu kebenarannya.

Menurutnya, keberadaan pencak silat seharusnya bisa membawa perdamaian dan kesejukan bagi masyarakat. Sebaliknya, jika disalahgunakan untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan berdampak pada terganggunya keamanan, maka tidak hanya merugikan diri sendiri melainkan orang lain bahkan keluarga sendiri.

“Saya imbau agar masing-masing perguruan pencak silat bisa saling menahan diri, menciptakan perdamaian dan kerukunan sehingga yang muncul adalah stigma positif. Dengan komitmen kita bersama, saya yakin dan percaya hal tersebut dapat terwujud” Pungkasnya.