Kapolres Trenggalek Harap Da`I Millenial Berperan Tangkal Radikalisme

Polres Trenggalek – Terbongkarnya sejumlah lokasi yang diduga keras sebagi pusat pelatihan jaringan teroris oleh Densus 88 Polri serta penangkapan beberapa orang yang patut diduga terlibat jaringan terorisme beberapa waktu lalu seolah membuka mata bahwa radikalisme dan terorisme itu nyata dan ada disekitar kita.

Menyikapi hal tersebut, Polres Trenggalek berinisiasi menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mengambil tema Da’i Kamtibmas dan Da’i Milenial dalam upaya mencegah radikalisme dan terorisme di Kabupaten Trenggalek. Senin, (28/12).

Acara yang dimotori oleh Satbinmas Polres Trenggalek ini digelar di Hall Prigi Hotel Bukit Ja`as Permai dan diikuti oleh berbagai organisasi pemuda dan mahasiswa diantaranya Gerakan Pemuda ANSOR, IPNU, IPPNU, PMII, JQHNU, PDPM, PDNA dan masih banyak lagi.

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring, S.H., S.I.K., M.Si. yang menjadi salah satu key note speaker mengungkapkan, terorisme merupakan aksi yang bertujuan menebar ketakutan atau teror kepada masyarakat. Terorisme berawal dari pemahaman radikal yang merasa bahwa pandangannya tentang sesuatu adalah paling benar.

Orang yang sudah terpapar radikalisme lanjut AKBP Doni memiliki ciri-ciri diantaranya mendadak anti sosial, mempunyai jaringan rahasia, perubahan emosional hingga memutus tali silaturahmi dengan keluarga.

“Pola rekutmen bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seringkali menggunakan media sosial dengan melakukan propaganda tertentu. Unit patroli siber banyak menemukan hal ini termasuk diantaranya adalah ujaran kebencian dan intoleransi” Ujar AKBP Doni.

Saat ini, masih kata AKBP Doni, mulai terjadi peningkatan ekskalasi aksi-aksi intoleransi dan aktifitas dari kelompok masyarakat tertentu yang mempertanyakan eksistensi Pancasila dan menyuarakan ideologi yang bertentangan dengan 4 pilar kebangsaan Indonesia.

Untuk mencegah hal tersebut, Kepolisian dalam hal ini Polres Trenggalek telah melakukan berbagai kegiatan yang bersifat preemtif persuasif humanis, mulai dari pendekatan kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda serta mengaktifkan FKPM sebagai garda terdepan deteksi dini di tingkat desa.

Masih kata AKBP Doni, peran serta Da`i Millenial yang memiliki wawasan dan ilmu keagamaan mumpuni sangat diperlukan untuk membantu menangkal paham radikalisme utamanya melalui platform media sosial.

Para Dai` Millenial tersebut nantinya bisa membantu menjelaskan dengan pendekataan keagamaan, sosialisasi kepada masyarakat khususnya usia dini dan produktif sehingga tidak terjebak dalam kelompok yang berpotensi mengusung paham-paham Radikal.

Apa yang dihasilkan dari diskusi hari ini, tidak akan berhenti sampai disini. Kedepan, akan ada tindak lanjuti, bekerjasama dengan MUI dan Kemenag termasuk pendampingan terhadap para Da`i Kamtibmas terkait dengan pemanfaatan IT sebagai sarana dakwah yang efektif sekaligus menangkal paham Radikalisme..

“Mari bersama kita jaga Indonesia sebagai rumah besar bersama. Jadikan keberagaman sebagai kekuatan kita. Tidak ada tempat bagi Intoleransi, radikalisme dan terorisme di bumi Pancasila. NKRI harga mati.” Ucap AKBP Doni.