PolresTrenggalek.com
Polsek Pule

Koordinasi Pengamanan Pagar Nusa Dari Pule

Polres Trenggalek – Jum’at (20/10/2017), adanya informasi pemberangkatan warga perguruan silat Pagar Nusa besok Sabtu (21/10/2017) guna kenaikan tingkat sabuk di Padepokan Pagar Nusa Trenggalek,  Waka Polsek Pule Polres Trenggalek Ipda Sanusi,SH bersama Kanit Intelkam Aiptu Yanik dan Bripka Iksan,SE melakukan koordinasi dengan tokoh perguruan pencak silat PN saudara Damiran. Ditemui di rumahnya mengatakan kebenaran adanya pemberangkatan sejumlah siswa Pagar Nusa yang akan kenaikan tingkat sabuk lebih tinggi, menurutnya.

Seperti yang sudah dikabarkan kemarin, para pesilat Pagar Nusa akan berangkat secara bersama-sama dengan titik kumpul di Simpang Lima Kasrepan Desa Jombok. Seperti kegiatan yang lain dari adanya perguruan pencak silat, Polsek Pule Polres Trenggalek berkewajiban dalam mengamankan jalannya kegiatan pencak silat Pagar Nusa sampai selesai kegiatan. Karena melibatkan orang banyak itulah, personel Polsek Pule Polres Trenggalek akan disiapkan dalam pengamanan pemberangkatanya.

“Hasil koordinasi dengan ketua PN sehubungan dengan giat kenaikan tingkat, seperti informasi kemarin jumlah siswa sebanyak  12 orang dengan rincian warga baru 5 orang , yang naik tingkat 7 orang.mereka berangkat dari titik kumpul di Simpang Lima Kasrepan Jombok pukul 16.00 wib berangkat menuju Padepokan dengan menggunakan R2,” Kata Ipda Sanusi,SH Waka Polsek Pule Polres Trenggalek.

Berbicara masalah perguruan pencak silat Pagar Nusa yang dilansir dari sumber online, berlatar belakang pada suatu pertemuan KH. Mustofa Bisri Rembang menceritakan kepada Prof. Dr. KH. Suharbillah Surabaya tentang semakin surutnya dunia persilatan di halaman pesantren. Hal ini ditandai dengan hilangnya peran pesantren sebagai Padepokan Pencak Silat. Sejak jaman Walisongo kyai-kyai pesantren adalah juga pendekar yang mengajarkan ilmu pencak silat dipesantrennya masing-masing. Namun seiring waktu, kenyataan tersebut mulai hilang. Terutama disebabkan semakin padatnya jadwal pendidikan pesantren karena orientasi penerapan standar pendidikan modern.Padahal diluar pesantren aneka ragam perguruan silat tumbuh semakin menjamur.

Mereka menggunakan pencak silat sebagai misi pengembangan agama dan kepercayaannya masing-masing. Dan perguruan-perguruan silat yang sebenarnya bersifat lokal ini, di antara mereka saling merasa paling kuat. Sehingga tak jarang terjadi bentrokan di antara mereka. Dan yang merasa kalah kuat akhirnya berguguran dan kemudian hilang dari peredaran. Karena kenyataan tersebut, KH. Mustofa Bisri kemudian menyarankan KH. Suharbillah untuk menemui KH. Abdullah Maksum jauhari di Lirboyo Kediri untuk menggagas persoalan ini. Kemudian sejalan perkembangan zaman lahirlah lembaga pencak silat Pagar Nusa yang menyatukan perguruan pencak silat di Kediri dan sekitarnya.

baca juga :

Bersama Masyarakat Bantu Padamkan Api Yang Menyala-Nyala

Profil desa Soket Dajah Dari Informasi Yang Diterima BKO Polres Trenggalek

Iptu Sardono Dampingi Sinergitas Untuk Negeri Dalam Baksos dan Adventure Trail

@2021 Polres Trenggalek