Polrestrenggalek.com
Polres Trenggalek

Polres Trenggalek Gelar Sambang Sekolah, Edukasi Dampak dan Bahaya Perundungan

Polres Trenggalek – Libur panjang lebaran telah usai. Sejak beberapa hari yang lalu, para pelajar sudah masuk sekolah dan beraktivitas seperti biasa. Memanfaatkan momen tersebut, petugas kepolisian kembali menggelar edukasi untuk memupuk semangat belajar para siswa. Tak terkecuali bagi jajaran Polsek Panggul.

Bersamaan dengan diselenggarakannya upacara pengibaran bendera merah putih yang memang rutin digelar setiap hari Senin pagi, Polsek Panggul mengerahkan sejumlah personelnya untuk tampil sebagai pembina upacara sekaligus memberikan pembinaan bagi siswa. Senin, (6/4).

Kapolres Trenggalek AKBP Ridwan Maliki, S.H., S.I.K., M.I.K., melalui Kapolsek Panggul AKP Suswanto, S.H., menuturkan, kegiatan sosialisasi dan edukasi pelajar tersebt merupakan bentuk kepedulian sekaligus menyiapkan generasi masa depan menyambut Indonesia Emas 2045.

“Hari ini ada dua sekolah yang menjadi sasaran edukasi. Yang pertama SDN 1 Barang yang dihadiri oleh Wakapolsek Panggul Ipda Suryono S.H, dan yang kedua SDN 2 Wonocoyo oleh Kanit Samapta Aipda Wahyu Suryo Purnomo.” Ungkapnya.

Beberapa hal yang menjadi fokus pembinaan diantaranya adalah maraknya perundungan, larangan penggunaan media sosial bagi anak yang belum genap berusia 16 tahun dan pemanfaatan teknologi informasi secara positif.

Disamping itu, disampaikan pula edukasi tentang kelalulintasan, menghormati orang tua dan guru wawasan kebangsaan dan nasionalisme serta pencegahan kenakalan remaja maupun penyalahgunaan Narkoba.

“Perundungan atau bullying memang menjadi salah satu atensi kita. Pencegahan tentunya tidak bisa dari jajaran kepolisian semata tetapi juga melibatkan sekolah dan lingkungan keluarga. Hal ini sangat penting mengingat dampak yang ditimbulkan.” Imbuhnya.

AKP Suswanto menambahkan, kegiatan pembinaan pelajar ini akan terus digelar dengan melibatkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk diantaranya adalah anggota Bhabinkamtibmas di tingkat desa.

“Tidak harus menjadi pembina upacara, tetapi bisa memanfaatkan setiap momen di sekolah.” Pungkasnya.